Tidak Bisa Berotot karena Keturunan Kurus

Memiliki tubuh berotot memang menjadi dambaan bagi sebagian besar kaum adam. Berbagai macam cara dilakukan mulai dari rutin berolahraga beban di tempat-tempat kebugaran, mengatur pola makan sedemikian rupa, hingga mengonsumsi berbagai suplemen untuk membantu mengoptimalkan pembentukan massa otot. Bagi mereka yang memiliki tubuh kurus, tentunya menaikkan berat badan, terutama massa otot, menjadi tantangan tersendiri. Banyak yang beranggapan bahwa tubuh kurus adalah keturunan, sehingga bagaimana pun usaha mengatur pola makan dan melakukan latihan beban, tidak akan menghasilkan tubuh berotot kekar.

Tubuh kurus, gemuk, ataupun berotot berkaitan dengan jumlah lemak dan otot dalam tubuh. Jumlah ini dipengaruhi oleh metabolisme tubuh dalam menyimpan dan memecah lemak, serta membentuk otot. Banyak faktor yang terlibat di dalamnya, baik yang dapat dikendalikan seperti pola makan, aktivitas fisik, kondisi psikis, dan pola hidup; serta faktor yang tidak dapat dikendalikan, seperti faktor genetik dan usia1. Faktor genetik memang memegang peran, karena ada orang tertentu yang sepertinya lebih mudah membentuk massa otot dibanding orang lainnya. Namun, pengaturan asupan nutrisi dan olahraga yang tepat juga sangat berpengaruh untuk memiliki proporsi tubuh ideal dan berotot.

Pada awal tahun 1940, Dr. W.H. Sheldon mengembangkan teori mengenai tipe tubuh, atau dikenal dengan somatotipe. Teori ini membagi tubuh manusia berdasarkan karakteristik fisiologis dan psikologis menjadi 3, yakni ectomorph (cenderung kurus dengan metabolisme cepat), mesomorph (cenderung berbentuk kotak, berotot dan kekar dengan metabolisme sedang), dan endomorph (cenderung bulat dan ‘lembek’ dengan metabolisme lambat). Namun, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, teori ini  mulai bergeser. Bentuk tubuh seseorang dapat berubah, dipengaruhi pola makan dan aktivitas fisik. Orang yang memiliki tubuh kurus maupun gemuk, jika diberikan pola makan dan aktivitas fisik yang tepat, semakin lama akan akan menunjukkan badan yang semakin berotot2.

Nah, lalu apa yang harus dilakukan untuk memperoleh tubuh berotot?

Pertama, tentunya pengaturan pola makan yang baik. Konsumsi makanan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kalori harian, tapi juga harus diperhatikan komposisi nutrisinya. Untuk membentuk otot, pastinya dibutuhkan asupan protein yang cukup. Kamu harus mencukupi kebutuhan protein untuk membentuk otot secara maksimal hingga 2.2 gram protein per kg berat badan kamu3. Protein berkualitas tinggi dapat kamu peroleh dari susu, putih telur, dada ayam, serta tempe. Kamu juga bisa melengkapi kebutuhan nutrisi dengan dengan L-Men GainMass, suplemen Hi Protein dari L-Men. Satu saji L-Men GainMass mengandung 300 kalori, 19 gram protein, dan berbagai kandungan vitamin serta mineral lainnya sehingga cocok untuk membantu melengkapi nutrisi yang kamu butuhkan.

Selain mengatur pola makan yang tepat, olahraga beban juga harus dilakukan untuk perkembangan otot. Lakukan minimal 2x latihan beban dalam satu minggu, dengan intensitas sesuai kapasitas kamu, untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Jangan lupa juga untuk istirahat yang cukup ya (7-9 jam sehari).

References:

  1. Institute of Medicine (US) Subcommittee on Military Weight Management. Weight Management: State of the Science and Opportunities for Military Programs. Washington (DC): National Academies Press (US); 2004. 3, Factors That Influence Body Weight. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK221834/  [8 Juni 2020]
  2. National Academy of Sports Medicine (NASM). Body types: how to train and diet for your body type. https://blog.nasm.org/fitness/body-types-how-to-train-diet-for-your-body-type [8 Juni 2020]
  3. Schoenfeld, B. J., & Aragon, A. A. (2018). How much protein can the body use in a single meal for muscle-building? Implications for daily protein distribution. Journal of the International Society of Sports Nutrition, 15(1). doi:10.1186/s12970-018-0215-1

Diakses pada 8 Juni 2020

Share Article:

Copyright © 2018 Nutrimart. All rights reserved.